REFLEKSI DIRI DALAM KESUCIAN FITRI

Hakekat dan Hikmat Puasa 

Ibadah puasa dalam tataran teologis merupakan sebuah kewajiban yang harus di jalankan tanpa ada wilayah untuk memperdebatkannya, tapi dari sisi kemanusiaan merupakan sebuah mata rantai nilai sosial yang diajarkan kepada umatnya, semua ibadah yang dilakukan pada akhirnya memberikan pendidikan sosial kepada manusia untuk bermuamalah dengan manusia lain yang ada di dunia ini.

REFLEKSI DIRI DALAM KESUCIAN FITRI

Sepintas lalu jika kita perhatikan bahwa ibadah puasa hanya mengandung nilai spritualitas semata, tapi pada hakekatnya merupakan ajaran yang mengandung nilai sosial yang sangat spektakuler untuk seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ketika kita menjalankan ibadah puasa kita tahu bagaimana rasanya perut kosong ketika diajak beraktifitas, kita merasakan kesulitan hidup ketika menyaksikan orang di sekitar hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kalau hanya mengandalkan informasi satu arah akan memberikan hasil yang kurang akurat. Selama ini kita hanya berandai-andai tentang penderitaan si miskin dan tanpa tahu dengan jelas arti kemiskinan itu sendiri.

Sebagai ilustrasi nilai puasa dengan kepekaan sosial bisa kita contohkan, ketika kita sedang menjalankan ibadah puasa, betapa sangat sedih melihat orang lain makan seenaknya tanpa mempedulikan kita yang sedang puasa. Tapi pernahkah kita berpikir kalau seandainya kita yang berada di dalam dan menikmati makanan tersebut, sementara di luar ada anak jalanan yang hanya bisa memperhatikan tanpa tahu kapan dia bisa merasakan enaknya menu tersebut. Kalau kita tidak pernah merasakan dan mengalami seperti anak tersebut, kita tidak akan pernah tahu rasanya lapar sementara orang di sekitar kita acuh dan tidak menaruh rasa kasihan sedikitpun.

Baca juga kisah hikmah tentang sedekah

Rasulallah Pemimpin Tauladan

Dalam ibadah puasa memberikan pelajaran kepada para pemimpin agar sebagai seorang pemimpin harus berinteraksi langsung dengan rakyatnya untuk mengetahui sebuah kebijaksanaan yang akan di keluarkan. Apakah rakyat akan menderita dengan kebijaksanan tersebut atau tidak. Ini dapat di rasakan ketika seorang pemimpin langsung turun interaksi dengan rakyatnya.

Hal ini di contohkan langsung oleh Rasulallah ketika beliau menjadi seorang pemimpin negara di Madinah, beliau lebih suka bergaul dengan rakyat kecil di bandingkan dengan kalangan konglomerat yang ada pada waktu itu. Beliau pernah berpesan kepada sahabatnya : ” Ketika kalian mencariku dan tidak menemukan saya di masjid, maka carilah saya di antara orang-orang miskin”. Para Sahabat membuktikan sendiri kalau Rasulallah ketika tidak di temukan di masjid di temukan tengah berada di antara rakyatnya yang miskin, dan bukan di antara para konglomerat.

Sebagai seorang pemimpin dari sebuah negara beliau memberikan contoh langsung tentang hakekat kepemimpinan, seorang pemimpin bukanlah sosok yang minta dilayani segala kebutuhannya, tapi seorang pemimpin adalah pelayan untuk rakyat yang di pimpinnya.

Tradisi kepemimpinan seperti ini juga di lanjutkan oleh para sahabat Rasulallah ketika menjadi khalifah. Seperti sahabat Umar Bin Khatab, beliau dalam riwayatnya selalu melakukan penyamaran tanpa pengawal untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya. Bila melihat rakyatnya kelaparan beliau langsung membawakan beras dan memikul sendiri untuk kebutuhan keluarga tersebut. Terbukti pada akhirnya ketika para sejarawan menyebutkan bahwa negara Madinah yang di pimpin Rasulallah tampil sebagai produk unggul yang di jadikan contoh para pemikir untuk menciptakan masyarakat yang aman dari konflik horizontal dan damai dalam kemajemukan, dimana tidak adanya sekat idiologi yang bisa menciptakan permusuhan dan kepincangan sosial. Mudah-mudahan Idul Fitri tahun ini memberikan nilai positif kepada para penguasa kita untuk lebih mendahulukan kepentingan dan kesejahteran rakyatnya.

Refleksi di hari yang fitri

Mudah- mudahan saja arti Idul Fitri bisa kembali diresapi tiap Muslim sebagai momen dimana tiap manusia kembali pada fitrahnya, sehingga sanggup menempuh hari- hari sehabis Idul Fitri sebagai Muslim yang sanggup melaksanakan ajaran Islam dengan baik, sanggup mencapai kecintaan Illahi dengan senantiasa melaksanakan ibadah sebaik mungkin di bulan Ramadhan

Perayaan Idul Fitri tidak lagi cuma jadi perayaan serta pesta- pesta bernuansa Islami, tetapi ke- Islamannya cuma sebatas tampilan. Tetapi benar benar merefleksikan kemenangan itu dalam keseharian sehabis Ramadhan, selaku fakta sudah melaksanakan seluruh ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan, serta cuma mengharapkan Ridho Illahi saja

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *